Selasa, 24 November 2020

Ali bin Abi Thalib Selesaikan Kasus Ibu Menolak Anaknya

Seorang pemuda dari kalangan Anshor mengadukan ibunya kepada Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Namun, wanita itu menolak mengakui pemuda tersebut sebagai anaknya. Ia justru menuduh pemuda itu berdusta dan menuduhnya berzina.

Amirul mukminin meminta pemuda itu membawakan bukti, namun ia tak memilikinya. Sementara wanita yang diakui sebagai ibunya itu membawa beberapa saksi wanita. “Wanita itu belum menikah, pemuda itulah yang berdusta dan secara tidak langsung menuduh wanita baik-baik telah berzina,” kata mereka hampir seragam.

Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu yang kebetulan lewat, menyaksikan peristiwa itu. “Apa yang terjadi?” tanyanya.

Setelah orang-orang menceritakan peristiwa itu, Ali kemudian memanggil semua saksi wanita. Ia meminta klarifikasi kepada mereka. Namun, wanita itu tetap menolak mengakui pemuda tersebut sebagai anaknya.

Lantas Ali memanggil pemuda itu. “Ingkarilah ia sebagai ibumu sebagaimana ia mengingkarimu sebagai anaknya.”

“Wahai putra paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia itu benar-benar ibuku.”

“Ingkarilah ia sebagai ibumu. Aku akan menjadi ayahmu, Al Hasan dan Al Husain akan menjadi saudaramu.”

“Baiklah kalau begitu, aku mengingkarinya sebagai ibuku.”

Ali mendekati wali wanita itu. “Bolehkah aku memutuskan terkait wanita ini?”

“Boleh, putuskan saja wahai menantu Rasulullah.”

“Wahai seluruh yang hadir di sini, bersaksilah. Sesungguhnya aku menikahkan pemuda ini dengan wanita tersebut. Keduanya adalah orang lain, bukan mahramnya,” kata Ali lantang.

Lalu Ali memanggil pelayannya, Qanbar, disuruhnya membawa sekantong dirham. Setelah dihitung, jumlahnya 480 dirham. Uang itu menjadi mahar pernikahan mereka.

“Gandenglah tangan istrimu, jangan kau kembali kepada kami sampai ada bekas pernikahan,” kata Ali sebelum meninggalkan mereka.

“Wahai ayah Al Hasan,” kata wanita itu. “Demi Allah, ini adalah dosa. Aku tidak bisa menikah dengannya. Dia itu sebenarnya anakku.”

Semua orang kaget mendengar pengakuan wanita tersebut. Sejak tadi ia menolak mengakui pemuda tersebut anaknya bahkan bersikeras mengatakan pemuda itu berdusta.

“Bagaimana itu bisa terjadi?” tanya Ali.

Wanita itu pun membuka rahasianya. “Aku dinikahkan dengan pria negro, lalu mengandung anak ini. Ketika pergi berperang, suamiku terbunuh. Lalu kubawa anak ini ke Bani Fulan hingga ia tumbuh besar di sana. Sejak itu aku tak mengakuinya sebagai anak.”

“Aku adalah ayahnya Al Hasan. Pertemukan pemuda ini dengan ibunya, sambungkan garis nasabnya,” demikian kecerdasan Ali mampu menyelesaikan masalah ini dengan baik.

Kisah cara cerdas Ali bin Abi Thalib ini diabadikan Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam buknya Ath Thuruq al Hukmiyyah fi as Siyasay asy Syar’iyyah.

Kecerdasan Ali Bin Abi Thalib Dalam Memutuskan Perkara Umat

 

Kisah kecerdasan Yang dimiliki oleh Syaidina Ali Bin Abi Thalib dalam melihat masalah dengan sangat teliti. Ali Bin Abi Thalib Masuk dalam 170 Urutan Sahabiyah dan Sahabat Nabi Muhammad SAW. Dan beliau merupakan khalifah keempat dalam kejayaan Islam.

Betapa cerdasnya sahabat Nabi tersebut dalam menuntaskan kasus-kasus yang terjadi di Madinah dan Mekkah. Dalam melihat masalah, selalu menggunakan cara berpikir rasional revolusioner dan terbalik.

Kecerdasan Ali Bin Abi Thalib Terhadap Beberapa Kasus

Ketika itu Khalifah kedua yakni Umar bin Khattab RA. seorang Wanita cantik berteriak histeris.

“Wahai Khalifah, Seorang lelaki telah menodai kehormatanku, ini bukti perbuatannya” Wanita ini mengadu kepada Umar, sambil menunjukkan cairan didekat kewanitaannya.

Maka umar seketika meminta kepada wanita lain, untuk memeriksa (cairan) yang dilaporkan wanita tersebut.

“Didekat organ kewanitaan, ada cairan Sp*rma” Lapor wanita yang memeriksa wanita tersebut kepada khalifah.

Dengan laporan yang memeriksa tersebut. Umar  menghadirkan pemuda Ansor yang dituduh wanita tersebut.

Karena merasa tidak melakukannya, maka lelaki tersebut membela diri

“Wahai Amirul Mukminin, periksalah dengan teliti kasus ini. Demi Allah, aku tidak berzina. Aku juga tidak menyukainya. Dia menggodaku tetapi aku menjaga kehormatanku.” Keren kan lelaki Anshor ini. Digoda untuk berzina namun dia menolaknya. Akan tetapi beberapa orang yang menyaksian, menjadi bingung. Benar yang mana.

Apakah wanita itu benar-benar menjadi korban zina lelaki tersebut. Ataukah lelaki ini tidak melakukan sama sekali?

Temasuk Umar Bin Khattab mulai bingung.

Umar Bin Khattab Konsultasi Kepada Sayyidina Ali Bin Abi Thalib

 

“Wahai Abul Hasan, apa pendapatmu terkait kasus ini?” Konsultasi Sayydidina Umar kepada Sayyidina Ali setelah mendengar perkataan pemuda itu.

Ali bin Abu Thalib, RA mengamati bekas air Sp*rma yang menempel pada baju wanita tersebut.

Lalu Ali Bin Abi Thalib dengan kecerdasan yang ia miliki, Ia minta disediakan air mendidih.

Betapa kagetnya kedua orang tersebut, karena mereka pikir akan disiram airpanas.

 

Datanglah air panas, kemudian dituangkannya air panas itu ke baju tersebut. Apa yang terjadi?

 

 

Cairan yang dilaporkan sebagai cairan sp*rma tersebut berubah warna menjadi putih dan membeku. Syaidina Ali menciumnya. Diperhatikan oleh Umar Bin Khattab. Sambil heran. Kira-kira kalau bahasa zaman now “Sayyiidina Ali, mau ngapain? Apa gak jijik itu? hehe”

 

Tak lama kemudian, Ali Bin Abi Thalib mencicipi cairan yag beku tersebut. Semua orang dalam ruangan menjadi heran. Ada apa dengan Ali Bin Thalib yang memakan cairan kotor?

“Ini putih telur” Begitu kesimpulan Ali Bin Abi Thalib.

 

Umar Bin Khattab dan seluruh yang ada dalam ruangan kaget. Setelah sebelumnya bingung dan heran saat menyaksikan Sayyidina Ali mencicipi cairan putih telur tersebut.

Dengan hal itu, maka Ali kemudian melakukan wawancara mendalam. Membongkar apa maksud wanita itu berbohong.

 

“Sebenarnya aku yang menyukai pemuda tersebut. Aku mendekatinya, namun tak mampu menaklukkannya. Maka aku membuat rencana ini. Kuoleskan putih telur pada baju dan sekitar pahaku. Kemudian aku kemari untuk mengadukan pemuda tersebut.” Jelas wanita itu.

Keadilan Ali bin Abi Thalib yang Disandarkan pada Allah

 

Halifah keempat Islam Sayyidina Ali bin Abi Thalib dikenal dengan sikapnya yang bijaksana. Kebijaksanaannya itu juga melahirkan sifat adil yang dimilikinya, hal itu sebagaimana yang beliau dapatkan selama ditempa langsung oleh Rasulullah SAW.

Dalam kitab Sirah Sahabat karya Syekh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawy dijelaskan sebuah kisah yang menarik dan dapat dipetik teladannya dari Sayyidina Ali. Kisah ini berbentuk pertanyaan kepada Sayyidina Ali dari Ja’d bin Hubairah.

Ibnu Asakir mentakhrij dari Ali bin Rabi’ah, dia berkata bahwa Ja’d bin Hubairah menemui Sayyidina Ali dan bertanya : “Wahai Amirul Mukminin, jika ada dua orang yang menemuimu, yang pertama lebih mencintaimu daripada cintanya kepada diri sendiri, keluarga dan harta bendanya, sedangkan orang kedua akan membunuhmu andaikan dia bisa membunuhmu. Maka, bagaimana engkau memutuskan perkara di antara keduanya?”.

Mendengar pertanyaan itu, Sayyidina Ali pun menjawab: “Aku terlepas dari apa yang ada di dalam hati mereka. Apa yang kulakukan adalah semata karena Allah."

Amirul Mukminin yang diangkat sebagai khalifah pada tahun 656 Masehi ini juga memiliki gaya hidup yang mengikuti Rasulullah SAW. Beliau juga pernah berkata penting bagi seorang hamba mengenali kebenaran. Sebab benar tidak diukur oleh orang-orangnya, tetapi manusia diukur oleh kebenaran.



Jumat, 13 November 2020

Doa Sholat Tahajjud

 

Rabbanaa atinaa fid-dun-yaa hasanataw wa fil-aakhirati hasanataw wa qinaa adzaaban-naar.

Allaahumma lakal-hamdu anta qayyimus-samaawaati wal-ardhi wa man fiihin, wa lakal-hamdu laka mulkus-samaawaati wal-ardhi wa man fiihin, wa lakal-hamdu nuurus-samaawaati wal-ardhi, wa lakal-hamdu antal-haqqun wa wa’dukal-haqqu wa liqaa’uka haqqun wa qauluka haqqun wal-jannatu haq-qun, wan-naaru haqqun, wan-nabiyyuuna haqqun, wa Muhammadun shallallaahu ‘alaihi wa sallama haqqun, was-saa’atu haqqun.

Allahumma laka aslamtu, wabika aamantu, wa ‘alaika tawakkaltu wa ilaika anabtu wa bika khaashamtu, wa ilaika haakamtu, faghfir lii maa qaddamtu, wa maa akhkhartu wa maa asrartu, wa maa a’lantu antal-muqaddimu wa antal-mu’akhkhiru laa ilaaha illa anta au laa ilaaha gairuka wa laa haula wa laa quwwata illa billaah.

Allahummagfilii waliwaalidayya war hamhumaa kama rabbaayanii shagiiraa.

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan sebaik-baik permohonan, sebaik-baiknya doa, sebaik-baiknya keberhasilan, sebaik-baiknya amal perbuatan, sebaik-baiknya pahala, sebaik-baiknya kehidupan dan sebaik-baiknya kematian. kokohkanlah keimananku, tinggikanlah derajatku, terimalah sholat-sholatku, ampunilah dosa kesalahanku, dan aku mohon kepada-Mu untuk mendapatkan karir yang lebih baik semoga hamba diterima untuk mengikuti pendidikan perwira kepolisian.

Ya Allah cerdaskanlah otakku, sebagaimana Engkau mencerdaskan utusan-Mu, Rasullah Saw. Berilah aku rezki berupa kepahaman seperti kepahaman para Nabi dan hapalan seperti hafalan para rasul dan ilham dari malaikat muqorrobin dalam kesehatan, wahai Tuhan yang maha penyayang.

Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu.

Ya Allah mudahkanlah setiap aktifitas yang akan saya awali

Ya Allah bukakanlah hikma-Mu padaku, bentanglah rahmat-Mu kepadaku dan ingatkanlah aku terhadap apa yang aku lupa, wahai dzat yang memiliki keagungan dan kemulian.

Astagfirullaahal-azhiim wa atuubu ilaiih. 100 x

Doa Sholat Hajat

 

Astagfirullaaha rabbii min kulli dzanbin wa atuubu ilaiih.

Allahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin shalaatar-ridhaa wardha ‘an ashhaabihir-ridhar-ridhaa. 100 x

Laa ilaaha illallahul-hakiimul-kariim subhaanallaahi rabbil-‘arsyil-‘azhiim.

Al-hamdu lillaahi rabbil-‘aalamiin as’aluka muujibaati rahmatika wa ‘azaa’ima maghfiratika wal-gha-niimata min kulli birrin was-salamaata min kulli itsmin laa tada’ lii dzanban illa ghafartahu wa laa hamman illa far-rajtahu wa laa haajatan illa hiya laka ridhan illa qadhaitahaa ya arhamar-raahimiin.

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan sebaik-baik permohonan, sebaik-baiknya Doa, sebaik-baiknya keberhasilan, sebaik-baiknya amal perbuatan, sebaik-baiknya pahala, sebaik-baiknya kehidupan dan sebaik-baiknya kematian. Kokohkanlah keimananku, dan aku mohon kepada-Mu cerdaskanlah otakku dengan ilmu yang bermanfaat, Ya Allah aku mohon kepada-Mu untuk mendapatkan karir yang lebih baik jadikanlah hamba jadi perwira Kepolisian Ya Allah.

Duhai Allah, saya sudah berusaha untuk belajar sesuai dengan kemampuan yang engkau berikan kepada hamba, sekarang saya sudah pasrah hanya meminta kepadaMu, sungguh engkaulah yang pasti mendengar doa saya.

Ya Allah saya percaya engkaulah yang tidak punya batas dalam pemberian.

Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu

La ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minazh-zhaalimiin.

 

 

 

Sambutan Ketua STM

  Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.   Bismillahir rohmanir rohiim. Alhamdullilahi robbil ‘alamin, wash sholatu was salaamu ‘al...